Kamis, 17 April 2014

Tersesat di Persimpangan

Berlari tanpa arah, berjalan tak menetapkan tujuan. Layaknya seonggok daging yang berjalan tanpa arti. Tak mengerti harus mengarahkan kekanan atau kiri. Merasa tersesat bila tak ada lagi cara untuk jalan lurus kedepan atau bingung harus berjalan kemana disaat ada persimpangan. Karena, aku telah terbiasa dipilihkan jalan, aku juga terbiasa untuk terus berjalan lurus seperti yang dipinta oleh mereka. Terbiasa akan dipilihkan mana jalanku berarah dan tersesat bila tak lagi dipilihkan kemana aku akan berjalan bahkan berlari.

Disaat kehilangan arah, aku mencoba untuk berani mengambil arah. Mengambil arah sesuai dengan keinginanku, sesuai dengan minat ku. Hingga berada dipersimpangan jalan, ketika aku ingin memilih ketika itu pula pilihanku tak disetujui oleh mereka. Entah apa yg mereka pikirkan terhadap keputusanku terhadap arah yg akan ku lalui. Satu detik yang lalu mereka berkata semua terserah pada keinginanku, tetapi satu detik kemudian mereka berkata berlawanan.

Entah apalagi yang tengah dipersiapkan. Skenario apalagi yang mereka persiapkan untuk senggok daging yang berjalan dengan tak tau arah seperti halnya boneka kayu yg dikaitkan dengan tali untuk menjadi alat penggeraknya. Entah sampai kapan aku berjala layakya boneka kayu yg diikatkan dengan tali, yang hanya bisa berjalan sesuai keinginan seorang dalang.


Harus berbuat apalagi untuk bisa menetapkan tujuan bahkan arah yg ingin kupilih saja aku tak kuasa. Sampai kapan aku menjadi seonggok daging tanpa arti, sampai kapan aku harus menjadi boneka yang bergerak karena dalang dibelakangku. Sampai kapan aku harus berlari dan berjalan tanpa arti seperti ini. Apakah harus selamanya aku seperti ini? Berjalan, bahkan berlari yang akan tersesat di persimpangan ketika dalang dan aku memiliki keinginan yang berbeda.

Rabu, 16 April 2014

20th January

bila memang kita dipertemukan untuk sebuah alasan, apakah kita akan dipisahkan untuk sebuah alasan kembali? mungkin untuk mereka, datang dan pergi seseorang didalam kehidupannya hanya sebuah alur yang memang dijalani dengan begitu saja tanpa harus mencegahnya.. tapi untukku, datang dan pergi seseorang dalam kehidupanku sangatlah sakit.. entah apa karna aku yang takssanggup menghadapi kenyataan dimana hari aku tak bisa bersama lagi dan menjalaninya kembali dengan langkah yang sunyi

begitupula ketika kamu datang dalam kehidupanku. kamu, membawa warna warni kehidupan. kamu, sosok pria yang memiliki suara dan tawa yang khas. kamu yang aku yakini akan tetap tinggal disini bersamaku sampai kapanpun itu. sejak kamu hadir, kamu yang selalu aku harapkan berada disini. kamu, kini menjadi prioritas utamaku dan dapat mengalahkan segala hal. kamu, alasan satu - satunya aku tetap bertahan dan terus berjuang di dalam pahitnya dunia ini. dan kamu, alasan aku dapat tertawa bahkan sedih.

kamu, aku berusaha mati - matian untukmu agar tak merasakan apa itu sakit. kamu, aku berusaha mati - matian untukmu menjadi yang terbaik. kamu, aku berusaha mati - matian untuk membuatmu selalu bahagia. dan kamu, aku berusaha mati - matian  untuk mengerti semua tentang kamu..

karena awalnya aku kira kamu tak akan membiarkan siapapun datang untuk memberiku luka. awalnya akukira kamu datang untuk menggantikan semua tangis yang telah kukeluarkan karna pahit luka yang belum pernah bisa mengering. kamu, yang awalnya aku kira datang dan memberikanku sedikit kebahagiaan dalam hidup.

ternyata semua tak berjalan dengan keinginanku. kamu datang dengan berjuta harapan yang dengan gampangnya kamu hancurkan. kamu datang dengan dengan pelangi yang tak kunjung meredakan hujan didalamnya.

bila memang, kamu tak ingin bersamaku, tolong bicaralah.. tak usah pikirkan semua perasaanku, bila memang kamu ingin pergi dari hidupku, tolonglah tak perlu bersikap manis yang membuatku berat melepaskanmu. kamu, pria yang ku harap akan terus menemani ku.. bila memang kita sudah tak lagi satu hati, aku siap untuk menerimanya. bila kamu dan aku harus berhenti disini, aku ikhlas. dan bila kamu ingin pergi, tolong jangan pernah kembali. hati ini, sudah cukup rapuh untuk disakiti kembali. karna luka lamaku, yang sempat kamu tutup kini terluka lebih parah.





Jumat, 04 April 2014

untuk kamu, lelaki yang kupercaya dari masa depan.

Dimalam itu, kamu datang dengan membawakan sebuah bingkisan buah tangan untukku. buah tangan yang membuat aku dan kamu bertemu dengan pertama kalinya. dan di pertemuan pertama itu, aku tak bisa mengucapkan banyak kata - kata didepanmu. aku hanya bisa diam dan tersenyum dan mengucapkan "Terimakasih ya om pak boss" teringat sekali didalam ingatanku bagaimana mimik kagetmu ketika aku memanggilmu degan sebutan itu..

kamu, seorang lelaki sudah sangat berhasil merebut hati aku.. merebut semua perhatianku yang saat itu, aku sudah tak ada lagi alasan untuk bertahan tuk menetap dikota ini, kota persinggahanku yang membuatku mengenal kamu, pria yang berumur satu tahun dibawahku yang sangat berhasil menyita seluruh ingatanku..

hingga dimalam itu, malam ke duapuluh dibulan januari awal tahun dua ribu empat belas ini tepat pukul setengah sepuluh kamu menyatakan semua perasaanmu tepat di mushalla dekat tempat tinggalku yang berada dikota ini. kamu, untuk kedua kalinya berhasil membuatkku tak bisa berkata apapun lagi. dengan semua caramu, cara mencurahkan perasaanmu kepadaku.. sebuah toples kecil bertutup dan bertali merah dan berisikan kertas origami berbentuk bintak berwarna warni, serta dua pertanyaan yang kamu ajukan kepadaku dan tulisan yang kamu torehkan di tangan kanan dan kirimu.. sungguh, caramu membuatku merasa begitu istimewa..

dan sejak malam ke dua puluh di bulan januari itu, kamu dan aku memulai untuk menjalani hubungan itu.. hubungan yang sangat aku harapakan akan terus berjalan sampai nanti, sampai kamu dan aku mengikrarkan janji suci itu didepan para saksi dan penghulu serta didepan kedua orang tuaku..

kamu, seorang lelaki yang sangat unik.. lelaki yang aku tunggu tunggu kehadirannya.. lelaki yang selalu saja berhasil meredam amarahku dengan sekejap. hingga waktu terus berjalan dan saat itu pun tiba...

saat dimana kamu akan menggapai cita - cita kamu..dan disaat itu aku tak pernah punya pertahanan yang cukup kuat untuk berada disini.. dan aku, menyegerakan untuk pergi dari kota ini, dan menjalani hal yang sama seoerti kamu... ya, pulang dan mengejar cita - citaku yg sempat tertunda..

mungkin masih jauh memang perjalanan aku dengan kamu untuk sampai tahap mengikrarkan janji suci itu, tapi.... aku mohon, kamu tetap disini, tetap setia untuk menjaga hati ini. menjaga apa yang sudah kita jalani ini.. aku, sangat yakin terhadapmu lelaki masa depanku.. aku yakin, kita akan bisa terus bersama hingga pada saatnya nanti, pada saat aku dan kamu bisa hidup bersama..