Minggu, 26 April 2015

...............

mungkin memang bisa dibilang kali ini aku harus pandai - pandai untuk mengontrol emosiku terhadap hidupku kali ini. Diusiaku yang sekarang, bukan lagi saatnya untuk terus menerus menuntut layaknya anak kecil yang merengek untuk dibelikan mainan baru. tapi disisi lain, aku benar benar merasa aku ingin masih di manja. entah siapa yang bisa memanjakanku, dulu mungkin memang aku telah dituntut mengerti akan keadaan keluargaku sejak aku duduk dibangku sekolah dasar. banyak yang berkata pada saat itu, aku tak lagi seperti anak anak sekolah dasar lainnya, karena aku kini memiliki pemikiran yang tak sepadan dengan usianya.

dalam malam, aku sering bertanya kapan aku bisa seperti anak lainnya... tak menutup kemungkinan aku memang menginginkan keluarga seperti mereka, yang setidaknya dapat berkumpul, tertawa bahkan merasakan dimanja dengan kedua orangtuanya..... sampai waktu mempertemukanku dengan dia.. sesosok lelaki yang kini sudah kembali kepada penciptaNya.. sosok lelaki yang disaat itu dia selalu memanjakanku dan memperlakukanku seperti halnya yang aku inginkan... di hadapnya aku seperti layaknya seorang wanita yang sangat berarti dan entah aku merasakan aku sangat beruntung memilikinya... 

tak pernah terlontar kata yang menyakitkan bahkan perbuatannya teramatlah manis kepadaku.. dan hal ini, baru bisa kurasakan oleh sesosok lelaki itu.. hingga aku merasa dia seperti penopang semangatku tiap harinya.. hingga pada suatu saat, Tuhan mengambil sesosok lelaki ke sisinya. lelaki yang tak pernah lagi bisa aku sentuh dan hanya bisa kurengkuh dengan doa yang selalu ku lafalkan hingga saat ini...

kini tahun sudah berganti aku sudah duduk di bangku perkuliahan, dan aku masih mencari sosok lelaki sepertinya.. mungkin memang benar, tak ada satu orangpun dapat disamakan karena tiap ciptaan-Nya selalu berbeda..

dan kini, aku tengah bersama lelaki yang teramat baik, lelaki yang dapat menjadikan ku lebih baik lagi, jujur tak ada lagi benakku yang menyebutkan aku harus mencari sosok lelaki itu lagi..... tetapi, entah mengapa di suatu kondisi slalu saja aku kecurian untuk terus menerus memikirkan apa yang akan lelaki itu lakukan terhadapku bila lelaki itupun masih disini bersamaku..

"tak ada manusia yang sempurna" sebuah tetuah dari dulu hingga sekarang yang selalu saja di sebut ketika menutupi sebuah kesalahan ataupun kekurangan seseorang... tetapi bukankah kita bisa menutupi kekurangan kita atau mungkin berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi... aku tidak menyalahkanmu, tetapi hanya saja aku selalu berpikir apakah memang aku cukup penting dimatamu itu? apakah aku harus menjadi teman-sepermainanmu agar kamu dapat memperdulikanku sama halnya dengan kamu memperdulikan mereka

ya, aku lelah untuk saat ini... aku sudah merasakan kelelahan yang teramat..... tapi entah sisi lainku selalu menguatkanku akan kita.. aku memang menyayangimu, tetapi aku tak pernah tau dapat bertahan sampai kapan bila kamu selalu seperti ini.. aku tak pernah menuntutmu menjadi yang sempurna, tetapi apakah salah bila kamu memperbaiki semua hal yang tidak aku sukai.....


tidak selamanya, kesabaranku terus bertambah sayang.. tidak selamanya, aku berdiam melihat semua hal yang salah didirimu sayang.. tidak selamanya, aku bisa seperti ini walaupun aku menyayangimu sayang..

Sabtu, 14 Maret 2015

untitled

Entah disini siapa yang salah. Tapi aku sendiripun tak tau apa yg kini ia persalahkan. Kini, ia sedang menghukumku dengan caranya. Dan hari ini sudah hari kedua ia seperti ini kepadaku. Bila aku tau masalahnyapun aku tak akan seperti ini, sulit untuk mencari posisi dalam tidurku, sulit akan mengingat beberapa baris hafalan untuk ujianku esok. Semakin aku bertanya, kulihat ia semakin berusaha untuk meredam emosinya. Entah kesalahan fatal apa yg telah kuperbuat hingga ia seperti ini, hingga menghukumku dengan caranya. 

Aku-terus-berusaha-mengingat. Ya, aku mengingat - ingat apa yang telah kuperbuat dan akhirnya entah aku merasakan nihil. Tak ada yg dapat ku ingat. Aku mengingat hal yang sepertinya aku tak pernah tau menahu akan hal ini. Jujur, perkataan ia yang menyuruhku untuk mempersiapkan diriku bila ia telah siap mengatakan apa yang ia rasakan.... 

Itu seperti layaknya bom atom yg akan meledak di hadapanku. Entah itu akan menggores, menyayat atau bahkan menikam hati ini hingga pelupuk mataku nanti tak mampu membendungnya.. Semoga, semoga bom waktu ini akan lunak termakan oleh waktu. Semoga semua kembali seperti sedia kala. Semoga, bom waktu ini dapat mendewasakanku, ia bahkan hubungan kami. Entah ini harapan terakhirku untuk berharap memiliki hubungan yang serius. Mungkin karen aku telah lelah akan semuanya, tetapi semoga... Semoga memang ia akhir dari pencarianku.. 

Semoga.. Kali ini aku hanya dapat berkata semoga.. 
Semoga, semua baik baik saja. 
Semoga ia tau, bahwa aku sangat mencintai ia.

Selamat malam, tuan babik.

kamu dan doa

dalam suatu waktu aku melafalkan doa akan seluruh yang tengah ku jalani. hingga aku terus melafalkan namamu dalam rapal doaku setiap hari. entah apakah Tuhan telah menyampaikan rapalan doaku tentangmu, entah apakah hembusan angin sudah membisikkan kepadamu semua tugas yang telah kuberikan kepadanya. entah apakah prajurit langit telah merasuk kedalam hatimu untuk menjaganya.

aku tidak yakin, akan semua rapal doaku telah terjawab oleh Tuhan. aku ragu akan tugas ku untuk angin telah dilakukan dan aku juga tak yakin akan prajurit langit yang telah merasukmu untuk menjaga hatimu. atau mungkin memang Tuhan sudah menyampaikannya tetapi kamu abaikan. atau mungkin angin sudah membisikkan kepadamu tetapi kamu seakan tuli terhadapnya atau mungkin kamu menutup semua pintu agar prajurit langit tidak bisa merengkuh hatimu.

kadang aku ingin terlahir seperti cenayang, yang bisa mengetahui apa dan bagaimana yang harus aku lakukan. aku ingin mengetahui bagaimana sebenarnya tatapan teduhmu, bukan hanya menerka dan hanya bisa berandai. aku ingin mengetahui bagaimana belaian kasihmu yang tulus bukan hanya menerka tetapi bisa memastikan.

tetapi apalah dayaku, aku hanya bisa menerka dan tidak bisa memastikan. aku hanya bisa berandai dan tidak bisa mewujudkannya. hanya rapal doa yang dapat aku harapkan. dengan lafal namamu dalam rapal doaku, aku bisa menjagamu. 



teruntukmu, lelaki dalam doaku