Sabtu, 14 Maret 2015

untitled

Entah disini siapa yang salah. Tapi aku sendiripun tak tau apa yg kini ia persalahkan. Kini, ia sedang menghukumku dengan caranya. Dan hari ini sudah hari kedua ia seperti ini kepadaku. Bila aku tau masalahnyapun aku tak akan seperti ini, sulit untuk mencari posisi dalam tidurku, sulit akan mengingat beberapa baris hafalan untuk ujianku esok. Semakin aku bertanya, kulihat ia semakin berusaha untuk meredam emosinya. Entah kesalahan fatal apa yg telah kuperbuat hingga ia seperti ini, hingga menghukumku dengan caranya. 

Aku-terus-berusaha-mengingat. Ya, aku mengingat - ingat apa yang telah kuperbuat dan akhirnya entah aku merasakan nihil. Tak ada yg dapat ku ingat. Aku mengingat hal yang sepertinya aku tak pernah tau menahu akan hal ini. Jujur, perkataan ia yang menyuruhku untuk mempersiapkan diriku bila ia telah siap mengatakan apa yang ia rasakan.... 

Itu seperti layaknya bom atom yg akan meledak di hadapanku. Entah itu akan menggores, menyayat atau bahkan menikam hati ini hingga pelupuk mataku nanti tak mampu membendungnya.. Semoga, semoga bom waktu ini akan lunak termakan oleh waktu. Semoga semua kembali seperti sedia kala. Semoga, bom waktu ini dapat mendewasakanku, ia bahkan hubungan kami. Entah ini harapan terakhirku untuk berharap memiliki hubungan yang serius. Mungkin karen aku telah lelah akan semuanya, tetapi semoga... Semoga memang ia akhir dari pencarianku.. 

Semoga.. Kali ini aku hanya dapat berkata semoga.. 
Semoga, semua baik baik saja. 
Semoga ia tau, bahwa aku sangat mencintai ia.

Selamat malam, tuan babik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar