Senin, 08 Juni 2020

Ketika itu....

"Aku kira jauh dari keluarga adalah hal yang asyik, tapi nyatanya......."

Sekarang adalah tahun ke tiga ku menginjakkan kaki di kota orang, tidak jauh memang.... Masih dalam satu negara, satu pulau tetap hanya saja berbeda provinsi... Aku harus menempuh jarak slama 6 jm kurang lebih bila aku menaiki kereta.... Cukup lama bukan? 462 Km jarak antara Jakarta - Semarang, jarak antara aku dengan orang - orang terkasih;keluarga............

Kukira dengan situasi yang seperti ini, akan membuatku malah semakin bebas tapi nyatanya tidak.... Banyak tanggung jawab yang ku bawa ketika aku harus pergi meninggalkan rumahku, banyak kekhawatiran yang melanda hatiku ketika aku harus berpamitan untuk pergi kembali ke kota rantau. Salah satunya ialah khawatir akan menerima kabar buruk dari rumah.

Perjalanan aku untuk merantau tak semulus yang kukira. Kecemasanku akan kabar buruk, juga ternyata tiba. Belum lama aku kembali ke tanah rantau, aku harus menghadapi kabar bahwa eyang kakungku tercinta pergi menyusul eyang putri. Padahal beberapa hari lalu saat aku berada di rumah, dan berada di sisi eyang kakung.... Eyang kakung terlihat segar, bahkan aku melihat eyang kakung tersenyum walau denga keadaan matanya terpejam.

Sempat ku membisikkan ke telinga eyang kakung "eyang, Anis pergi ke Semarang dulu ya.. Eyang janji ke Anis loh untuk nunggu Anis wisuda." Kalimat terakhir aku yang kubisikan, dan cukup egois bila kuingat kembali. Namun, dengan percaya diri aku berkata demikian tanpa berpikir bagaimana rasanya bertahan di setiap detik eyang kakung.

Aku ingat jelas, saat itu aku tertidur dengan nyaman, dan bodohnya handphone aku silent. Terbangun, seketika kulihat handphone banyak sekali panggilan tak terjawab dari kedua orang tuaku. Aku panik. Melihat pesan singkat yang dikirim oleh Ibunda tercinta dan berkaa bahwa eyang kakung telah tida, seketika dada ini terasa sempit tak dapat memuat oksigen dengan benar. Terasa otak-ku berkali kali mengucap kata menyalahkan "KENAPA LO SILENT HP LO BODOH". Itu katanya, dan pecah tangisku ketika melihat dari jam berapa keluargaku berusaha menghubungiku. Dan aku terus sumpah serapah pada diri ini. Karea bila saja Handphone ku tak ku silent, maka akan ada kesempatan aku bisa langsung terbang ke Jakarta.

Kali ini, patah hatiku benar benar patah tak bersisa. Aku, ditinggal eyang kakung-ku tercinta, yang selalu ku temani, yang selalu memanjakanku, yang selalu membuatkan ku barang-barang dengan penuh cinta. Sekelebat semua kenangan bersama eyang kakung berseliweran di depanku. Ingin saat itu aku memanggil siapapun yang bisa memindahkan ku dalam sekejap ke Jakarta, walau hanya sebentar. Setidaknya aku dapat mengucapkan salam perpisahan dan memberikan kecupan kasih sayangku yang terakhir untuk eyang kakung.

Seandainya itu terjadi, aku ingin membisikkan ke telinga eyang kakung

Eyang Kakung, maaf aku menjadi cucu yang egois untuk memintamu menungguku hingga hari wisudaku tiba, padahal Eyang telah berjuang dengan segenap hati di setiap detik. Eyang, terima kasih atas segala curahan kasih, sayang serta cinta Eyang Kakung untuk aku. Maaf ya eyang aku tidak bisa menjadi dokter seperti keinginan eyang kakung saat aku masih kecil. Tapi Eyang Kakung pasti senang kan melihat aku menjadi Mahasiswa. Terima kasih eyang kakung, telah menemani tumbuh kembangku, telah sabar menghadapi cucu seperti ku. Kata teman-temanku, eyang kakung adalah eyang tergaul. Eyang, maaf aku tidak berada di sisi eyang, maaf aku jauh saat ini. Tapi aku harap, Eyang Kakung sudah bertemu Eyang Puteri disana.Eyang Kakung, Anisa sayang Eyang Kakung. Anisa Rindu Eyang Kakung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar