Senin, 08 Juni 2020

Tuan Babik

Teruntuk kamu, yang pernah menjadi alasanku teetawa dan bersedih.
Entah sudah berapa purnama aku lewati tanpa dirimu dan masih saja kamu tertiba muncul di mimpiku semalam.
Dan membuatku semakin bertanya, apa kabarmu disana? Apa kamu sudah bahagia dengan jalanmu?

Terbangun dari mimpiku semalam, semakin mengeruk ingatanku di masa lalu.
Masa dimana kamu dan aku berjalan bersama menikmati indahnya malam di Kota Semarang.
Semakin mencoba mengingat, semakin aku bertanya mengapa setelah sekian lama kamu muncul di mimpiku?

Bila saja kamu di depanku sekarang, aku ingin sekali bercerita tentang apa yang sudah kita lalui di masa itu dan apakah kamu masih mengingatnya? atau hanya aku, yang masih saja mengingatnya?

Masih terasa jelas bagaimana bahumu yg lebar bisa membuatku aman, dan merasa semua akan baik baik saja. Pun terasa jelas, kamu yang tertiba lemas tak bertenaga hingga aku harus membawamu ke RS Kariadi.

Terasa bagaimana saat itu aku khawatir akan keadaanmu, namun tetap bahumu dapat membuatku merasa semua akan baik baik saja.

Dan masih terasa jelas bagaimana perubahan aman itu menjadi asing buatku dengan seketika. Tak lagi kudapat tatapan teduh kamu, tangan hangat kamu. Semuanya asing, termasuk gelak tawamu di malam itu.

Sebenarnya, aku terpaksa untuk bertanya ada apa di malam itu. Inginku mengabaikan rasa asing itu, inginku menikmati malam yang indah dengan sepiring Pizza di hadapan kita. Inginku, kita akan baik baik saja seperti sebelumnya.

Tetapi, kali ini aku salah. Aku tak bisa menahan rasa penasaran dan menanyakan kepadamu ada apa?. Dan aku menyesali kalimat yang aku lontarkan itu, sehingga kamu dan aku harus mengakhiri semuanya.

Masih terasa sesak, walau sudah beberapa tahun silam. Masih terasa pilu, walau sudah berganti musim.

Dan kali ini untuk pertama kalinya aku bilang, Kamu jahat!
Mengapa harus muncul kembali, setelah aku lupa akan kamu. Mengapa harus menampilkan senyum-mu, tawa-mu, dan memeluk-ku walau itu hanya dalam mimpi.


  • Dan kamu tau apa yang lebih jahat? Aku merasakan itu, dengan jelas dan nyata. Kemudian, aku kembali membuka luka ku sendiri dengan-mu, tuan babik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar