Jumat, 24 Juli 2020

안녕

Berawal dari pesan singkat yang kamu kirimkan untuk mengajakku bermain game moba. Bermain bersama hingga larut sambil bercengkrama hal hal remeh temeh. Sungguh awal yang sederhana. Namun, hanya bertahan beberapa hari. Terasa sepi awalnya, namun cepat beradaptasi kembali.

Beberapa bulan berjalan, seketika hari hari itu kembali. Dering telpon darimu setiap hari datang, bercengkrama hingga larut dan berjalan terus menerus hingga membuatku terbiasa akan hadir mu di hariku. Seringkali aku menegaskan hatiku, kamu hanya sosok adik untukku. Kamu, hanyalah teman bicaraku. Pelepas penatku. Namun, seringkali hati bicara bahwa aku berharap lebih dari itu.

"Sudahlah, dengan seperti ini aku sudah senang." Pikirku kala itu. Kala kamu masih dengan tertiba menelponku tiap harinya. Namun, nyatanya ini tak berlangsung lama. Kamu hilang kembali. Dering telponmu, kini tak lagi ada... Sehari, dua hari, aku menunggu. Namun tak kunjung berbunyi.

Bertanya tanya hati ini, apakah aku menyukainya? ataukah aku hanya merasa kehilangan? ataukah ada hal lainnya? Aku berpikir keras dengan perasaan apa yang aku rasa sekarang terhadapmu. Semakin ku berpikir, semakin ku menegaskan bahwa km hanya sosok adik untukku. Ah, namun tak bisa ku pungkiri aku ingin lebih dr itu. Namun pikirku langsung sirna, aku disadarkan oleh dua kenyataan yang tak akan bisa membuatku lebih dari teman. Kami berbeda jauh umurnya, pun kami berbeda keyakinan.

"Sudahlah, bukankah ini hal yang bagus dia menghilang lagi? Karena ini kesempatanku memulihkan hati terhadapnya. Kesempatanku, memulihkan diri dam bersiap kembali menjadi teman yang baik untuknya". Pikirku, kali ini sambil menunggu dering telpon darinya yang tak kunjung datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar